Filsafat ha-na-ca-ka-ra yang diungkapan Paku Buwana IX dikutip oleh Yasadipura sebagai bahan sarasehan yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal, 13 Juli 1992. Judul makalah yang dibawakan Yasadipura adalah " Basa Jawi Hing Tembe Wingking Sarta Haksara Jawi kang Mawa Tuntunan Panggalih Dalem Hingkang Sinuhun Paku Buwana IX Hing Karaton Surakarta Hadiningrat ". Dalam makalah itu dikemukakan oleh Yasadipura ( 1992 : 9 - 10 ) bahwa Paku Buwana IX memberikan ajaran ( filsafat hidup ) berdasarkan aksara ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya, yang dimulai dengan tembang kinanthi, sebagai berikut.
Sentirpitu
" Duniaku Bumi Manusia Dengan Persoalannya.” ( Pram dalam Bumi Manusia )
Minggu, 25 Agustus 2013
Selasa, 20 Agustus 2013
Gamelan Madu Sari – New Nectar
The
percussion-based Javanese gamelan orchestra is one of the world's great musical
traditions. Here five Vancouver composer-performers bring their experience in
this and other forms of music -- Western classical, new music, jazz, Vietnamese
and Balinese musics, electroacoustic composition, and improvisation --
extending the tradition in ways of fascinating beauty.

Senin, 19 Agustus 2013
Aleta Baun: 2013 Goldman Environmental Prize Winner, Indonesia
Aleta Baun, seorang perempuan dari Nusa
Tenggara Timur, meraih penghargaan Goldman Environmental Prize 2013 atas
jasa-jasanya di bidang konservasi alam. Mama Aleta menerima langsung Goldman
Environmental Prize 2013 dalam satu upacara khusus di San Francisco Opera
House, Amerika Serikat, sekitar pukul 17.00, Senin 15 April 2013, waktu San
Fransisco atau pukul 07.00, 16 April 2013 WIB.
Goldman Environmental Prize 2013 merupakan Hadiah Lingkungan Hidup
yang diberikan setiap tahun kepada pahlawan lingkungan hidup, masing-masing
mewakili enam kawasan besar di dunia. Lima lainnya adalah Jonathan Deal (Afrika
Selatan), Kimberly Wasserman (AS), Azzam Alwash (Irak), Rossano Ercolini
(Italia), dan Nohra Padilla (Kolombia).
Jumat, 16 Agustus 2013
Riwu Ga, Penyebar Berita Proklamasi 17 Agustus 1945
Di hari tuanya siapa yang mengenal Riwu, dia hanya memacul tanah tandus. Riwu tak seperti pejabat yang dengan mobil mewah ke Istana dan dengan jas puluhan juta menghormat pada bendera Indonesia Raya. Ia hanya orang tua yang rapuh dan ia tidak pernah diundang ke Istana, karena mungkin saja bau dekil dan baju kotor tak pantas bagi Istana yang megah. Tapi tanpa Riwu kita tak mengenal Indonesia seperti apa yang kita kenal sekarang.
Nama ini tak pernah disebut-sebut dalam sejarah perjalanan bangsa. Rupanya, memang Riwu sendiri yang menghendaki begitu. Tak lama setelah Indonesia merdeka, Riwu pamit kepada Bung Karno untuk pulang ke Pulau Sabu, Timor, tanah kelahirannya. Sejak itu, ia tak pernah sekalipun bercerita, ihwal peran pentingnya mengawal dan melayani Bung Karno.
Langganan:
Postingan (Atom)